Friday, February 7, 2014

0 Wacana Kebudayaan, Lingkungan dan Pengembangan Masyarakat





Manusia, Kebudayaan dan lingkungan, oleh: Dr. Hans J. Daeng

Salah satu ulasan yang sangat menarik dalam pembahasan Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan yang dibahas dalam bukunya Dr. Hans J. Daeng adalah tentang budaya atraksi Bau Nyale yang ada dilombok, sebuah perbandingan budaya antara Lombok, Sumba dan Sumbawa. Namun dalam kritikan saya ini, lebih kepada tradisi Bau Nyale di Lombok, khususnya Lombok bagian selatan karena tidak semua pantai ada Nyale-nya.

Sebagai bentuk rasa kegembiraan atas datangnya hari Bau Nyale, para muda-mudi berbondong-bondong datang kepantai Lombok Tengah bagian selatan untuk menangkap atau yang disebut dengan Bau Nyale. Seperti; pantai Selong Belanak, Mawi, Tampah, Mawun, Are Guling, Kute, Seger, Aan dan yang lainnya. para muda-mudi, anak kecil dan orang tua datang satu hari sebelum acara Bau Nyale, karena biasanya, pemerintah setempat membuat agenda menarik yang bisa membuat para pengunjung merasa tertarik dan tidak bosen, misalnya; acara pewayangan, drama dan yang lainnya. hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dalam perayaan Bau Nyale tersebut.

Dr. Hans J. Daeng menyebutkan bahwa tradisi muda-mudi sebelum Bau Nyale tiba adalah, pertama; Betandak atau Belakak yang artinya bahwa saling melempar pantun, guna menarik perhatian perempuan, jika pantun yang dilemparkan tersebut tidak mampu dibalas maka hal tersebut akan menjadi bahan ejekan, dan hal tersebut sebagai tanda untuk lebih saling mendekat. Kedua; Bejambek artinya saling menghidangkan sirih pinang sebagai penerimaan seorang gadis pada pemuda pilihannya. Dan hal yang lazim terjadi ialah kegiatan betandak dan bejambek dilanjutkan dengan pernikahan pada masa pascapanen penen padi berikutnya.

Namun, menurut saya pribadi adalah kesalah-pahaman antara pemberi informasi maupun yang mendapatkan informasi. Karena Betandak dan Bejambek yang dimaksudkan oleh Dr. Hans J. Daeng tidak pernah saya temukan, dan tidak pernah terjadi selama ini. Hal yang saya tahu adalah ngerayu (merayu) yang artinya pemuda mencoba mencari pasangan untuk menemaninya semalam suntuk sebelum tiba Bau Nyale. Namun sebagaian besar para pemuda membawa pasangan masing-masing sebagai teman, sehingga ngerayu (merayu) biasanya dilakukan oleh pemuda yang tidak memiliki pasangan.

Dengan demikian, kelanjutan dari acara betandak dan bejambek adalah pernikahan setelah pascapanen merupakan hal yang biasa dan bukan dari hasil betandak dan bejambek melaui acara perkenalan pada atraksi budaya Bau Nyale, pernikahan mereka dikarenakan sudah memiliki hubungan sebelumnya. Bau Nyale hanya sekedar kesenangan semata untuk memeriahkan dan mensukseskan budaya. Dengan demikian, perlu dikaji ulang agar esensi atraksi budaya Bau Nyale tidak salah kaprah.

Kebudayaan dan Lingkungan: dalam Perspektif Antropologi. Oleh Dr. Hari Poerwanto

Apa yang disampaikan oleh Dr. Hari poerwanto dalam bukunya yang berjudul kebudayaan dan lingkungan dalam perspektif antropologi merupakan sebuah paradigma dalam memandang budaya dan lingkungan. Budaya adalah sebuah tradisi yang harus dilestarikan tanpa ada pertimbangan bahkan budaya menjadi identitas suatu Negara. Dengan demikian, budaya merupakan sistem pemaknaan yang dimiliki bersama yang dihasilkan melaluo proses bersama bukan proses perseorangan. Inilah kebudian menjadikan landasan dasar bagi masyarakat Indonesia untuk memahami pentingnya melestarikan budaya. Secara tidak langsung, masyarakatlah yang membuat budaya tersebut.

Berkaitan dengan lingkungan, limbah adalah salah satu yang dapat merusak lingkungan, baik limbah dari industry-industri besar maupun kecil. Pembangunan-pembangunan industry besar tidak hanya dituntut untuk mengetahui masalah-masalah atau kendala-kendala yang bersifat fisik tetapi juga berkaitan dengan situasi sosial dan budaya masyarakat sasaran program. Bagi kehidupan masyarakat, dampak pembangunan yang tidak mementingkan kepentingan masyarakat setempat, baik dalam pekerjaan maupun perusakan lingkungan dengan limbah industri memiliki dampak negatif bagi perkembangan isdustri maupun lingkungan masyarakat sekitarnya.

Dari apa yang saya pahami, budaya dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang harus dijaga kelestarian dan keindahannya. Karena dengan budaya yang kaya dan lingkungan yang bersih akan berdampak pada ekonomi dan kemandirian suatu masyarakat. Namun dalam buku ini, tidak ada strategi baru yang lebih rill, penjelasan strategi hanya sebatas pengkajian ulang tentang strategi-strategi yang ada. Sehingga ide-ide baru tentang bagaimana mempertahankan budaya dan lingkungan akan pengaruh negatif, baik dari dalam maupun dari luar.

Pengembangan Masyarakat: Wacana dan Praktik. Oleh Dr. Zubaedi, M. Ag., M. Pd.

Sebuah ide yang cemerlang adalah kata-kata pertama yang ingin saya sampaikan, pengembangan masyarakat baik dari kalangan kecil hingga sampai kelas menengah sungguh luar biasa, sehingga saya mendapatkan banyak inspirasi dari buku tersebut, wacana yang selama ini berkembang begitu relevan dengan wacana yang diuraikan. Jika seandainya pemikiran ini dapat diterapkan secara terus menerus oleh masyarakat Indonesia maka kemiskinan yang ada saat ini bisa teratasi.

Namun yang menjadi pertanyaan saya dalam buku tersebut adalah adakah orang atau masyarakat Indonesia sadar akan hal tersebut? karena pada kenyataannya, fenomena yang terjadi dewasa ini tidaklah sama dengan apa yang diuraikan. Ide-de cemerlang yang digambarkan atau diuraikan hanya sebatas tulisan diatas kertas putih, masyarakat Indonesia jauh dari apa yang diharapkan. Misalnya; Indonesia membutuhkan orang-orang yang cerdas untuk mempertahankan bangsa dan berjuang agar menjadi bangsa yang besar, namun pengembangan baik dibidang pendidikan, pembangunan, ekonomi maupun pengembangan-pengembangan masyarakat tidak pernah terealisasi dengan maksimal, bahkan kasus korupsi yang terjadi semakin meluas.

Ada dua teori yang bisa saya gambarkan dari hasil analisi saya, yakni; Eyes Theory and the Theory of the Stomach (teori mata dan teori perut). Pertama; teori mata adalah sebuah pandangan tentang bagaimana menatap masa depan dengan indah, baik dalam konteks government sebagai mobilisasi perubahan menuju kesejahteraan, maupun lembaga swasta sebagai pembantu dalam mewujudkan pembangunan bangsa. Kedua; teori perut adalah pandangan yang pada hakekatnya tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki secara terus menerus. Misalnya; pembangunan infrastruktur jalan yang ada diseluruh indonesia, daerah atau pelosok desa, secara sadar telah iri akan pembangunan yang ada dikota maupun pusat pemerintahan. Pembangunan jalan yang ada tidak pernah dikerjakan dalam jangka panjang, setiap tahun selalu memiliki anggaran untuk diperbaiki, sehingga konsep ini saya namakan dengan theory of the Stomach (teori perut).

Kedua teori merupakan identitas bangsa Indonesia yang tidak pernah hilang sampai saat ini, bahkan akan terus berjalan hingga sadar akan nilai penting dalam beraktivitas dengan baik dan lancar (tidak pernah terganggu). Namun kendati demikian, sebagai warga Indonesia yang baik, saya berharap perubahan demi kesejahteraan warga Indonesia sesuai dengan pancasila alinea ke-5.

Post a Comment

komentar anda sangat berarti bagi kami, terima kasih telah membaca blog Rantauan Lombok Merantau

Simak juga Post Sarjana Muda 45 Minggu ini

Hidup hanyalah sekedar jalan-jalan untuk menikmati kehidupan, hidup hanyalah sekedar hembusan nafas untuk melangkah menikmati jeruji Tuhan, hidup hanyalah gambaran Tuhan akan kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu…, tak perlu rebut, tak perlu risau, tak perlu bingung, tak perlu galau, tak perlu merasa tertipu, tak perlu merasa bahwa hidup ini tak adil, tak perlu memberontak, tak perlu bangga, tak perlu sombong. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap proses yang ada, karena proses akan menentukan bahwa jalan-jalan dibumi yang kita lakukan sukses atau gagal. (Surga ataukah Neraka).

Data Pengunjung

Popular Posts

My Archive RLM

 

Negara Pengunjung RLM


PUTRA NTB MENULIS
SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistic RLM

LOGO

LOGO
PUTRA LOMBOK MENULIS "BATUJAI"

Translate