Friday, March 22, 2013

0 Terkikisnya Persatuan dan Kesatuan


“Menipisnya persatuan dan kesatuan umat beragama” sebuah ungkapan yang tidak asing lagi ditelinga ku, dan kali ini aku mendengarnya secara langsung pada Khutbah Jum’at di UAD Jogjakarta. Masalah ini adalah sebuah masalah besar bagi umat beragama (kata tukang khutbah Jum’at) namun benar atau tidaknya, mari kita bincangkan demi memperjelas dan mendapatkan solusi yang terbaik agar persatuan dan kesatuan umat beragama tetap terjaga dengan baik.

Kita kaji dari sifat yang paling sederhana dari masyarakat disekitar kita, karena pada intinya perpecahan akan terjadi ketika masyarakat sudah dirasuki dengan sifat individualisme yang bertolak belakang dengan sifat sosial.

Masih aku ingat kata-kata dosen saya, bapak muhammadun seorang dosen di fakultas dakwan IAIN mataram dan sekarang sedang melanjutkan s3-nya di UIN Jogja, beliau pernah berkata yang kurang lebihnya adalah sifat individualisme adalah sesuatu yang bersifat positif dalam sebuah karir, mendorong diri sendiri dalam menciptakan ruang yang positif dalam meraih masa depan, namun secara sosial sifat indiviudalisme lebih pada mementingkan diri sendiri dan bersifat tertutup.
Dalam penelitian saya sebagai tugas akhir kuliah (skripsi) tentang “komunikasi antarpribadi dalam membentuk solidaritas pada masyarakat” ada beberapa penemuna penting yang saya dapatkan, yakni; sifat individualisme pada masyarakat desa lebih rendah ketimbang individualisme kota, terlihat dari komunikasi yang dibangun dalam masyarakat desa tersebut, misalnya; adat desa tentang menyilak (mengundang), Menyilak pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yakni; menyilak secara langsung (tatap muka) dan menyilak secara tidak langsung (surat undangan). adat (menyilak secara langsung) ini sampai sekarang masih dilestarikan dengan baik oleh masyarakat desa sedangkan pada kebiasaan di kota (metropolitan) biasanya menyilak sudah diganti dengan sebuah surat undangan. Sehingga komunikasi tidak dilakukan secara langsung namun menggunakan komunikasi simbol (surat undangan).

Sedangkan dalam sebuah artikel Wikipedia, Individualisme adalah sikap moral, filsafat politik, ideologi, atau pandangan sosial yang menekankan "nilai moral individu". individualis mempromosikan pelaksanaan tujuan seseorang dan keinginan dan kemandirian nilai begitu dan kemandirian sementara menentang gangguan eksternal pada kepentingan sendiri oleh masyarakat atau lembaga-lembaga seperti pemerintah. Individualisme membuat fokus individu dan begitu dimulai "dengan premis dasar bahwa individu manusia adalah kepentingan utama dalam perjuangan untuk pembebasan." Liberalisme, eksistensialisme dan anarkisme adalah contoh gerakan yang mengambil individu manusia sebagai unit pusat analisis Individualisme sehingga melibatkan "hak individu untuk kebebasan dan realisasi diri".

Persatuan dan kesatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh atau tidak terpecah-belah. Persatuan dan kesatuan mengandung arti “bersatunya macam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi.” Indonesia Mengandung dua pengertian, yaitu pengertian Indonesia ditinjau dari segi geografis dan dari segi bangsa.
Dari segi geografis, Indonesia berarti bagian bumi yang membentang dari 95° sampai 141° Bujur Timur dan 6° Lintang Utara sampai 11o Lintang Selatan atau wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia dalam arti luas adalah seluruh rakyat yang merasa senasib dan sepenanggungan yang bermukim di dalam wilayah itu. Persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia berarti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan itu didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat.

Makna dan Pentingnya Persatuan Dan Kesatuan Bangsa, Kesatuan bangsa Indonesia yang kita rasakan saat ini, itu terjadi dalam proses yang dinamis dan berlangsung lama, karena persatuan dan kesatuan bangsa terbentuk dari proses yang tumbuh dari unsur-unsur sosial budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang ditempa dalam jangkauan waktu yang lama sekali.

Unsur-unsur sosial budaya itu antara lain seperti sifat kekeluargaan dan jiwa gotong-royong. Kedua unsur itu merupakan sifat-sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun oleh asas kemanusiaan dan kebudayaan. Karena masuknya kebudayaan dari luar, maka terjadi proses akulturasi (percampuran kebudayaan). Kebudayaan dari luar itu adalah kebudayaan Hindu, Islam, Kristen dan unsur-unsur kebudayaan lain yang beraneka ragam. Semua unsur-unsur kebudayaan dari luar yang masuk diseleksi oleh bangsa Indonesia. Kemudian sifat-sifat lain terlihat dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama yang senantiasa dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Hal itulah yang mendorong terwujudnya persatuan bangsa Indonesia. Jadi makna dan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan sifat kekeluargaan, jiwa gotong-royong, musyawarah dan lain sebagainya.
Dari gambaran diatas, saya rasa sudah ada gambaran diotak kita pengertian, makna dan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam lingkup sosial kita, tak penting beragama lain namun yang terpenting adalah saling menjaga, menghormati, tolong menolong dan sebagaianya, sebuah hubungan yang akan meng-erat-kan rasa sosial sebagai umat beragama. Hilangnya semua itu, akan berawal dari sebuah sifat individualisme pada diri masyarakat, membenteng rumahnya dengan tembok besar, menggariskan dirinya sebagai rakyat yang sudah kaya raya serta memalingkan muka terhadap permasalahan sosial yang ada.

Kesimpulan;

Persatuan dan kesatuan akan hilang ketika komunikasi antar masyarakat sudah tidak ada lagi, berkomunikasi dengan efektif akan menimbulkan rasa persaudaraan yang kuat, sehingga persatuan dan kesatuan antar umat Bergama akan sulit dipecahkan atau dihancurkan. Menjaga tradisi lama dan memasukkan tradisi baru yang bersifat produktif adalah salah satu solusi yang tepat untuk dilakukan. Tradisi rakyat tentang menyilak, gotong royong, dzikiran dan lain sebagainya yang sudah melekat pada rakyat pedesaan harus dipertahan untuk selamanya. Dipertahankan sebagai kekayaan adat dan budaya luhur dari nenek moyang kita. Namun, bukan berarti kita tidak boleh mengikuti budaya lain, budaya yang akan memajukan dan lebih memperkaya budaya yang ada.


Inspirasi; Khutbah Jum’at di Kampus UAD Jogjakarta




Post a Comment

komentar anda sangat berarti bagi kami, terima kasih telah membaca blog Rantauan Lombok Merantau

Simak juga Post Sarjana Muda 45 Minggu ini

Hidup hanyalah sekedar jalan-jalan untuk menikmati kehidupan, hidup hanyalah sekedar hembusan nafas untuk melangkah menikmati jeruji Tuhan, hidup hanyalah gambaran Tuhan akan kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu…, tak perlu rebut, tak perlu risau, tak perlu bingung, tak perlu galau, tak perlu merasa tertipu, tak perlu merasa bahwa hidup ini tak adil, tak perlu memberontak, tak perlu bangga, tak perlu sombong. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap proses yang ada, karena proses akan menentukan bahwa jalan-jalan dibumi yang kita lakukan sukses atau gagal. (Surga ataukah Neraka).

Data Pengunjung

Popular Posts

My Archive RLM

 

Negara Pengunjung RLM


PUTRA NTB MENULIS
SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistic RLM

LOGO

LOGO
PUTRA LOMBOK MENULIS "BATUJAI"

Translate