Wednesday, November 27, 2013

0 Penanaman Sifat Amanah Sejak Dini



Sumber Gambar;  www.sindonews.com



Kalau dalam nyanyian bang haji rhoma irama “banyak jalan menuju rhoma” maka banyak cara untuk mendapatkan kebahagian, banyak cara untuk menikmati hidup, banyak cara untuk menipu dunia dan yang lainnya. namun, tentu saja ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang, karena kata-kata bijak terkadang tidak bisa menyentuh dan dijadikan sebagai pelajaran bagi setiap orang, bahkan tak mengenalnya sama sekali. Sebagian orang hidup dalam kemonotonan walau merasa lelah dan perih, namun tetap dijalani karena tak ada jalan yang dapat dipikirkan.

Dengan demikian, tentu saja bagi para intelektual memiliki seribu macam cara dalam menempuh kebahagiaan, masa depan dan yang lainnya. namun tidak bagi orang-orang tertentu, seperti yang saya ilustrasikan dibawah ini, semoga kita semakin terbuka dan bersyukur akan keadaan yang kita dapatkan.

Dor adalah seorang laki-laki muda yang gagah perkasa, hidup dalam pedesaan yang tertinggal, kehidupan malam bagai dunia tanpa matahari karena didesanya tidak ada aliran listrik, hanya lampu yang terbuat dari botol kaleng yang menerangi rumahnya. Kehidupan sehari-harinya dijalani dengan apa adanya. Karena keadaan ekonomi orang tua yang pas-pasan dor tidak pernah mengeyam pendidikan seperti pemuda-pemuda yang lainnya. Dor hanyalah seorang anak miskin yang tak mampu berbuat apa-apa dengan keadaan yang dialaminya. Setiap hari kerjaannya hanya pergi kesawah membantu ayahnya membajak sawah. Suatu hari, Dor duduk digubuk-tuanya sambil merenung akan kondisi hidup yang dialaminya. Karena ini ilustrasi maka kira-kira renungannya seperti ini.


Tuhan…
Aku lelah dengan keadaan ini…
Setiap hari…, sawah dan rumah adalah pemandangan yang tak pernah hilang…
Malam…, tak pernah indah seperti mimpi yang menemani ku tidur…
Apakah ini semua kehendak_Mu…, ya Tuhan ku…
Tuhan…
Aku tak berilmu, apalagi memiliki kemahiran dalam diri ku…
Tidak seperti teman-teman ku yang lain…
Mereka bermain…, berprestasi…, bahkan memiliki segalanya…
Sedangkan aku…,
Membaca aja gak bisa…, apalagi menulis…
Aku tak mengenal huruf…
Aku…, hanyalah anak miskin yang tak mampu berbuat apa-apa…
Makan sehari-hari aja…, terkadang harus menahan lapar…


sambil memegang dagu, Dor menatap ayahnya yang sedang bermain dengan kerbau, berputar ketika garis pinis telah ditempuh, dan terus berlanjut sampai sawah selesai dibajak semuanya. Dor meneteskan air mata kesedihannya karena tak kuasa melihat kondisi orang tuanya yang sudah tua namun masih dilihatnya bekerja, seharunya saat ini sedang menikmati hari tuanya yang bahagia. Dibalik kejauhan, Dor melihat ibunya yang sedang membukuk menghadap tanah, dengan tangan yang masih lincah menancap benih padi, kaki yang gesit berjalan mundur. Dor menatap matahari yang begitu panas sambil melirik keibunya, batinya semakin menjerit kesedihan. Namun apalah daya, Dor hanyalah anak petani yang tak mampu berbuat apa-apa, yang iya bisa lakukan adalah membantu orang tuanya menjadi seorang petani.

Dalam gambaran ini, tentu saja anda sebagai pembacanya memiliki pandangan yang berbeda-beda, paradigma dari sudut yang tak bisa aku tebak. Namun, konsepnya hanya sederhana, bukan karena kemiskinan, tak berpendidikan, tidak memiliki skill, namun terisolasi dari kesadaran dunia, yang diketahui hanyalah hidup sesuai dengan apa yang ada didepan. Menurut anda…, apakah ada yang masih hidup terisolasi dari kesadaran, seperti yang saya ilustrasikan diatas? Tentu banyak sekali menurut saya, tidak tahu menurut anda.

Salah satu poin yang ingin saya sampaikan adalah, pemberian kesadaran sejak dini untuk generasi muda, tanpa mengenal status. Apakah kalangan tidak mampu sama sekali sampai pada kemampuan yang berlebih. Tentu saja kesadaran yang harus ditanamkan berbeda-beda, sesuai dengan idiologi yang anda miliki. Akan tetapi, yang paling sederhana adalah, kesadaran sifat amanah. Sebuah sifat yang harus dimiliki sejak dini agar ketika sudah dewasa tidak menjadi brandal intelktual.

Post a Comment

komentar anda sangat berarti bagi kami, terima kasih telah membaca blog Rantauan Lombok Merantau

Simak juga Post Sarjana Muda 45 Minggu ini

Hidup hanyalah sekedar jalan-jalan untuk menikmati kehidupan, hidup hanyalah sekedar hembusan nafas untuk melangkah menikmati jeruji Tuhan, hidup hanyalah gambaran Tuhan akan kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu…, tak perlu rebut, tak perlu risau, tak perlu bingung, tak perlu galau, tak perlu merasa tertipu, tak perlu merasa bahwa hidup ini tak adil, tak perlu memberontak, tak perlu bangga, tak perlu sombong. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap proses yang ada, karena proses akan menentukan bahwa jalan-jalan dibumi yang kita lakukan sukses atau gagal. (Surga ataukah Neraka).

Data Pengunjung

Popular Posts

My Archive RLM

 

Negara Pengunjung RLM


PUTRA NTB MENULIS
SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistic RLM

LOGO

LOGO
PUTRA LOMBOK MENULIS "BATUJAI"

Translate