Thursday, March 28, 2013

0 Mencoba Berimajinasi "Tantangan Pemimpin Masa Depan"


Suatu negara bangsa tetap mampu bersaing, para pemimpinnya (aparatur negara) harus menciptakan suatu bangunan sosial yang mampu menghasilkan modal intelektual atau kekuatan pikiran. Kepemimpinan aparatur negara akan menjadi mata uang Abad ke-21. Kita harus menginvestasikannya dengan bijak bagi generasi sekarang dan masa datang. Para pemimpin harus bersedia berbagi semangat dan keahlian yang dimiliki dalam memberdayakan orang lain, supaya menjadi pemimpin yang efektif. Para pemimpin aparatur negara, sebaiknya dapat menjadi inspirasi bagi anak buahnya khususnya dan masyarakat pada umumnya, sehingga mampu memicu dan memacu potensi manusiawi mereka yang besar, menantang gagasan konvensional, mengambil resiko dalam upaya mengejar sasaran dan impian, menciptakan antusiasme kesempurnaan, dan memfokuskan diri pada visi yang memimpin organisasi maupun negara kita serta merangkul umat manusia.

Kunci paradigma baru kepemimpinan aparatur negara adalah, kepemimpinan yang transformasional, transaksional, resonan dan memiliki jiwa pelayanan kepada masyarakat serta keberanian untuk hidup berdasarkan visi yang kuat. Salah satu tema visi yang paling sering dijumpai, yaitu membuat perbedaan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah serangkaian harga diri, nilai-nilai yang di dasarkan pada standar kesempurnaan tertinggi yang mungkin diraih. Sebagian nilai yang paling memiliki sifat pemberdayaan diri adalah integritas, kejujuran, kepercayaan, sikap optimis, tanggung jawab pribadi, menghormati semua orang, dan terbuka terhadap perubahan. Nilai-nilai ini membawa dampak mendalam terhadap kesehatan, kemakmuran, dan kesuksesan hidup kita.

Masalah yang menghadang hampir semua pemimpin di masa mendatang adalah bagaimana mengembangkan arsitektur social organisasi mereka, sehingga dia sungguh mampu menciptakan modal intelektual. Pada kebanyakan organisasi termasuk organisasi pemerintah, tidak memiliki cara untuk mengukur apa yang disebut sebagai modal intelektual. Tetapi, apabila kita menanyakan orangorang di berbagai organisasi mengenai seberapa besar pikiran mereka dimanfaatkan dalam tugastugasnya, jawaban standarnya kirakira 20 persen. Karena itu, apabila kita menambahkan 10 persen saja kepadanya, coba bayangkan akan seperti apa organisasi-organisasi kita.

Apa yang harus dipelajari untuk dilakukan oleh para pemimpin adalah mengembangkan arsitektur sosial yang mendorong orang-orang yang amat cerdas, yang kebanyakan memiliki ego yang besar untuk bekerja bersama dengan berhasil, dan memanfaatkan kreativitas mereka sendiri. Karena itu, tantangan besar bagi para pemimpin di Abad ke-21 adalah bagaimana membebaskan kekuatan pikiran dari organisasi mereka. Saya kira, ini merupakan tantangan yang mendasar dan cukup berbeda dari tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin Abad ke-21.

Lebih dari itu, mengingat untuk membangun kepemimpinan yang berbasis pelayanan selain menuntut cukup banyak persyaratan, juga melalui suatu proses panjang. Paradigma lama yang ingin cepatcepat mendudukan seseorang menjadi pimpinan, tetapi tidak mempertimbangkan kualifikasi dan kompetensinya, hanya akan menghasilkan para pemimpin yang tidak memiliki kepemimpinan yang dibutuhkan organisasi. Masa sekarang cukup banyak pemimpin tetapi sulit mencari sosok pemimpin yang memiliki kepemimpinan dengan persyaratan sebagai telah dikemukakan (transformasi, transaksional, resonan/primal, dan berhati pelayanan). Dengan kata lain, kita sedang menghadapi krisis kepemimpinan aparatur negara yang sudah pada tingkat membahayakan.

Belajar dari pengalaman negara dan bangsa lain yang telah berhasil dan maju berkembang, maka sudah saatnya kita menyiapkan kader bangsa untuk pemimpin masa depan. Masalah pemimpin tidak hanya sekedar melalui pilkada dan sejenisnya, yang perlu dilakukan adalah apakah para pemimpin yang mengikuti kontes tersebut sudah dipersiapkan dengan baik. Sudah cukup lama masyarakat mengalami penderitaan sebagai akibat para pemimpin yang tidak memiliki hati memberikan pelayanan dan kasih kepada masyarakat. Mengingat membentuk sosok kepemimpinan yang kita harapkan, memerlukan suatu proses maka penyiapannya harus benar-benar baik dan direncanakan dengan mantap. Salah satu instrumen yang handal adalah melalui jalur pendidikan, yang didukung oleh tingkat kesejahteraan, ekonomi, kesehatan, kenyamanan serta keamanan yang mantap. Dengan kata lain, membangun ke pemimpinan nasional menuntut komitmen pribadi, organisasional dan sosial yang tinggi dari semua pihak.

Kita harus yakin bahwa bangsa Indonesia yang telah teruji melalui masa perjuangan melawan penjajah dan krisis yang lain, harus mampu juga membangun paradigma baru kepemimpinan aparatur negara demi bangsa dan negara yang aman, makmur dan berkeadilan. Dengan demikian paradigma baru kepemimpinan aparatur negara adalah, kombinasi dari konsep kepemimpinan transformasional, transaksional, resonan, memiliki jiwa pelayanan kepada masyarakat serta keberanian untuk hidup berdasarkan visi yang kuat yang dilengkapi keunggulan prima (superleadership) dan mampu mengelola beragam budaya (multicultural leadership), yang diharapkan mampu hidup dan berkembang serta eksis dalam lingkungan yang hiperkompetisi.

Untuk dapat berada dalam barisan kader pimpinan bangsa yang handal dan terpercaya, terdapat sejumlah persyaratan lain kompetensi kepemimpinan aparatur negara disamping berbagai kemampuan profesional berupa knowledge, technical know-how, dan managerial know-how, yaitu konsistensi perilaku berupa komitmen dan kemampuan menerjemahkan falsafah hidup negara bangsa menjadi sikap hidup dan cara hidup individual, serta kebijakan-kebijakan institusional dalam sistem, proses, dan kebijakan-kebijakan pemerintahan dan pembangunan, dalam perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan berbangsa dan bernegara.


Post a Comment

komentar anda sangat berarti bagi kami, terima kasih telah membaca blog Rantauan Lombok Merantau

Simak juga Post Sarjana Muda 45 Minggu ini

Hidup hanyalah sekedar jalan-jalan untuk menikmati kehidupan, hidup hanyalah sekedar hembusan nafas untuk melangkah menikmati jeruji Tuhan, hidup hanyalah gambaran Tuhan akan kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu…, tak perlu rebut, tak perlu risau, tak perlu bingung, tak perlu galau, tak perlu merasa tertipu, tak perlu merasa bahwa hidup ini tak adil, tak perlu memberontak, tak perlu bangga, tak perlu sombong. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap proses yang ada, karena proses akan menentukan bahwa jalan-jalan dibumi yang kita lakukan sukses atau gagal. (Surga ataukah Neraka).

Data Pengunjung

Popular Posts

My Archive RLM

 

Negara Pengunjung RLM


PUTRA NTB MENULIS
SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistic RLM

LOGO

LOGO
PUTRA LOMBOK MENULIS "BATUJAI"

Translate