Saturday, January 31, 2015

0 Toleransi dan Keberagaman Masyarakat Sasak: Sebuah Opini dalam Perspektif Pekerja Sosial



Sekapur Sirih
Masyarakat sasak merupakan masyarakat yang memiliki banyak warna, tidak hanya dari sisi budaya, melainkan dari sisi bahasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Perbedaan budaya dan bahasa serta yang lainnya menjadi bentuk keberagaman yang bernilai tinggi dan tidak bisa ditawar dengan mata uang. Namun kehadiran dunia modern sebagai bentuk tawaran yang lebih baik serta professional telah merubah berbagai sisi keberagaman yang ada. Mengutip bahasa Ishak Harianto dalam tulisannya (Etika Kultural Masyarakat Sasak) yang dipublikasikan di berugaqinstitute.blogspot.com bahwa redup merupakan jawaban yang pas bagi keberagaman masyarakat sasak terhadap tawaran dunia modern saat ini. Keberagaman telah berengkarnasi dalam bentuk yang baru sesuai dengan terjemahan segelintir orang dalam memandang masa depan. Keberagaman tidak menjadi nilai jual yang tinggi seutuhnya melainkan menjadi nilai jual yang bisa diandalkan dalam menyambung nyawa dan mengangkat harkat dan martabat.
A.      Keberagaman Masyarakat Sasak
Berbicara masalah keberagaman masyarakat sasak sebagai warna kehidupan nyata yang bisa dilihat dewasa ini tidak terlepas dari berbagai macam pengaruh situasi dan kondisi beberapa puluhan tahun yang lalu. sebelum datangnya belanda untuk mengusir penjajahan bali, sampai pada pembebasan sasak sebagai masyarakat yang tertindas dari penjajahan belanda. Atau bahkan sebelum adanya tuan guru sampai tuan guru memiliki peranan penting dalam agama dan perpolitikan masyarakat sasak. namun, dalam tulisan ini, penulis tidak akan membahas mengenai persoalan awal ini, akan tetapi penulis akan mencoba melihat keberagaman yang ditawarkan oleh dunia modern dewasa ini. Yang mana, keberagaman merupakan produk yang ditawarkan secara menyeluruh dalam menerima kehadiran dunia modern sebagai dunia baru dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, ada beberapa keberagaman yang penulis coba analisa sesuai dengan tawaran dunia modern, yang pada dasarnya bukan sesuatu yang baru.
1.         Keberagaman Aturan
Perubahan sebagai bentuk pandangan baru dihadapan semua orang, tentu saja hal ini akan melahirkan paradigma baru. Pengertian baru sebagai bentuk keuntungan menjadi bagian yang lazim dan resolusi yang dicanangkan dalam menggapai kondisi kehidupan yang lebih baik. Halal dan haram, baik dan buruk menjadi dua sisi yang selalu bertarung diberbagai sisi kehidupan. Halal menjadi haram, haram menjadi halal dan baik menjadi buruk, buruk menjadi baik selalu di-klasik-kan untuk menyembunyikan kebenaran, kemudian aturanlah yang menjadi pembela kebenaran dan kebohongan dalam sistem kehidupan saat ini. Manusia hanyalah pembuat dan pelaku aturan yang terkadang mengorbankan kehidupan sosial dan keadilan. Dan kemiskinanlah yang menjadi kambing-hitam dari tawaran dunia modern tentang aturan.
Melirik tentang keberagaman, aturan adalah contoh paling nyata dalam kehidupan manusia, di mana begitu banyak aturan yang dihadapkan kepada manusia yang dibuat oleh manusia sendiri. Aturan pemerintah, agama, adat istiadat, dunia kerja dan yang lainnya, yang melahirkan beribu keturunan aturan dari setiap induk yang ada dan induk utama dari semua ini adalah dunia modern. Jilbab misalnya, jika keberagaman bukan dilahirkan dari dunai modern, maka pelarang jibab dalam aturan PT Tiara Mall beberapa minggu yang lalu tidak akan pernah terjadi. Walau pada dasarnya dunia modern menawarkan keberagaman, tetapi para pelaku terkadang menerjemahkan keberagaman sebagai bentuk keuntungan tersendiri dalam membentuk kekuasaan. Sehingga aturan akan terbentuk sebagai wujud dan manisvestasi dari kepentingan.
Aturan dalam dunia kerja modern dewasa ini sudah tidak menghargai keberagaman yang ada, mulai dari wajah, kulit, tinggi badan, penampilan, dan lainnya. Ketika tinggi badan, wajah yang cantik, kulit yang putih dan bersih, penampilan yang menarik dijadikan sebagai tolak ukur yang tinggi, maka yang tidak sesuai dengan aturan tersebut menjadi termarjinalkan secara professional, dan sayangnya pada kasus dunia kerja moder tidak membahas akan hal tersebut, seperti isu pelarangan jilbab pada kasus Tiara Mall yang ada di Lombok beberapa minggu yang lalu. Di mana hanya membesar-besarkan pelarangan jilbab, tapi pada konteks diskriminasi yang lain tidak pernah dibahas. Lalu, apakah ini yang dinamakan keberagaman dalam masyarakat? apakah keberagaman hanya dipahami dalam konteks agama, suku ataupun yang lainnya.
Dengan demikian, keberagaman dalam konteks aturan yang dihadapkan pada masyarakat sasak dari berbagai sisi, kemiskinan yang dijadikan sebagai alasan empuk dalam membuat berbagai macam hiasan untuk rakyat miskin, kemudian dijadikan sebagai kebutuhan utama dan dibuat untuk ketergantungan. Padahal kemiskinan tidak bisa dijadikan sebagai ukuran utama dalam membuat kebijakan, sedangkan kemiskinan memiliki berbagai bentuk nyata sebagai penyebab kompleks. Budaya patriarki, kekurangan modal sosial, kesadaran, ketahanan mental masyarakat, kreativitas merupakan deretan penyakit yang pernah digambarkan oleh Prof. Muhammad Yunus ketika melihat kemiskinan yang melanda masyarakat Bangladesh. Sehingga semua ini perlu didevinisikan untuk menjawab keberagaman penyakit yang menjangkit masyarakat kelas bawah (masyarakat miskin).
2.         Keberagaman Bahasa
lain gerupuk lain jaje, lain gubuk lain bahase” merupakan ungkapan yang tak tabu bagi masyarakat sasak, sebuah ungkapan yang memiliki makna akan banyaknya bahasa yang dimiliki. Sesama Lombok tengah misalnya, begitu banyak logat bahasa yang digunakan dan ini merupakan bentuk keragaman bahasa yang patut dihormati dan dihargai sebagai warna dalam kehidupan sehari-hari karena bahasa mengajarkan berbagai macam makna dalam menjalani kehidupan.
Tawaran dunia modern sebagai dunia yang lebih baik terhadap masyarakat sasak dan masyarakat lainnya merupakan salah satu yang tidak bisa dihindari. Tawaran dunia modern telah melamahkan berbagai bentuk komitmen dalam menjaga berbagai macam keberagaman yang ada. Bahasa adalah salah satu dari sekian keberagaman yang tergiur akan tawaran dunia modern. Bahasa sasak sebagai bahasa resmi sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat, bahasa Indonesia dan bahasa tetangga (bahasa Negara maju dan berkembang) giat dipelajari sebagai bentuk penyelamatan hidup (masa depan). Generasi yang lahir diatas tahun 2000-an telah mulai dan akan berbahasa nasional dan internasional dalam menunjang karir atau masa depan.
Ketika persoalannya demikian, bagaimana seharunya kita memaknai keberagaman? Apakah sebagai keutuhan ataukah sebagai jawaban yang kita persembahkan kepada dunia modern?
3.         Keberagaman Budaya
Dan bagaimana dengan budaya turun temurun yang dijalankan oleh masyarakat sasak selama ini, apakah kebaragama budaya yang dimiliki telah diciderai oleh dunia modern? Jawabannya adalah ya.
Mari kita perhatikan kondisi baru tentang makam loang balok, sebuah kondisi dengan keberagaman baru yang kelihatan akur dari berbagai sisi. Keakuran ini bak pasangan sejoli yang bersumpah untuk sehidup semati, namun dihadapkan dengan berbagai persoalan yang menantang dan rumit, tetapi dapat bertahan sampai ajal menjemput. Atau bagaimana budaya pra-senggigi dengan pasca-senggigi yang diwarnai dengan berbagai bentuk keragaman yang ada. Yang pada dasarnya keakuran yang ada telah menenggelamkan keragaman lokal. Akan tetapi perselingkungan keberagaman demikian tidak berdampak signifikan terhadap nila-nilai tradisional karena keberagaman seperti ini bersuara atas nama kesejahteraan sosial yang meluluhkan hati masyarakat.
4.         Keberagaman Sosial
Kehidupan sosial yang terbangun tanpa tembok pemisah (filter) adalah salah satu identitas masyarakat sasak, masyarakat hidup dengan nilai-nilai tradisional tanpa mengenal sifat individualisme seperti yang ditawarkan dunia modern saat ini. Kehidupan sosial masyarakat sasak yang menggambarkan keberagaman tanpa tendensi apapun telah lama mengakar dan membentuk hubungan sosial yang tinggi, gotong royong dengan konsep solidaritas mekanis masyarakat sasak patut untuk dilindungi dan dijaga kelestariannya sebagai upaya menjaga keberagaman lokal masyarakat sasak. Dan kesejahteraan sosial yang dijadikan sebagai senjata utama dunia modern telah tercapai dan akan semakin terwujud ketika masyarakat makin bergantung pada keadilan dan kesejahteraan yang dibawa dan ditawarkan oleh dunia modern.
Kehadiran dunia modern yang dilengkapi dengan canggihnya tekhnologi komunikasi membawa keberagaman sosial yang semakin kompleks, tidak melepas dan melewatkan sedikitpun situasi dan kondisi masyarakat, keberagaman yang satu melahirkan keberagaman yang lain. Bahkan meciptakan keberagaman yang lebih spesifik (individu) yang tak dapat dielakkan oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan hukum alam tentang regenerasi manusia, seperti halnya yang dijelaskan oleh Alvin Toffler tentang masyarakat selalu menciptakan kondisi baru yang memberikan amanah pada generasi baru tentang perubahan yang akan mereka lalui, sedangkan perubahan yang dijalani dijadikan bahan awal untuk memberikan pemahaman kepada generasi berikutnya. Sehingga keberagaman dewasa ini merupakan awal dari kebergaman baru yang akan diciptakan oleh generasi berikutnya. Sama halnya dengan keberagaman yang dijalankan oleh masyarakat zaman dahulu, yang dirubah oleh masyarakat dewasa ini.
Dengan demikian, percaya atau tidak ini merupakan perbincangan pada masa Thomas Kuhn ketika memulai berbicara masalah paradigma yang mengancam paradigma lama, dan hal tersebut mejadi salah satu sumbangsih pemikiran terbesar dan dijalankan sampai saat ini, mulai dari tukang becak sampai tukang politik. Bahwa mereka dituntut untuk menciptakan kreasi baru demi bertahan hidup, karna kreasi lama akan tergilas dan tidak berjalan berkelindan dengan tantangan hidup dewasa ini, begitu juga seterusnya sampai pada puncak akhir dunia (kiamat).
Dunia kesehatan misalnya, semua orang percaya bahwa pengobatan tradisional dengan pengobatan zaman sekarang sangat jauh berbeda. Dokter, bidan dan lainnya yang diciptakan oleh perguruan tinggi telah membawa perubahan dengan label “empiris” dengan doktrin “penyakit modern harus diatasi dan disembuhkan dengan gaya modern”. Selain itu, dunia pendidikan telah mengajarkan sejarah merupakan sesuatu yang harus dikenang dan menjadi pelajaran untuk memulai memahami hal-hal baru tentang dunia pendidikan, berbicara tentang masa lampau adalah sesuatu yang expired. Sehingga, yang berlalu biarkanlah berlalu, dan menciptakan dunia baru.
Penulis saat ini sedikit memahami dan menyadari bahwa keberagaman sosial yang ada, di mana keberagaman merupakan bagian dari warna yang indah seperti pelangi harus dijunjung tinggi tanpa mendeskriditkan apapun merupakan sebuah kenyataan yang berbanding terbalik. Bagi penulis keberagaman tidak hanya dipandang dari agama, budaya, bahasa dan yang lainnya, namun apapun yang bentuknya berbeda dari setiap manusia, hewan dan tumbuhan merupakan sebuah keberagaman yang perlu diterjemahkan secara utuh tanpa melihat apa, siapa, bagaimana, mengapa, kapan dan dimana. Sehingga menemukan keberagaman yang nyata.
B.       Toleransi dalam Kehidupan Masyarakat Sasak
Berbicara masalah toleransi, maka penting kiranya bertanya tentang apa yang dimaksud dengan toleransi dalam masyarakat sasak dewasa ini? Apakah toleransi hanya dimaknai sekedar saling menghargai dan menghormati satu sama lain, atau tolerasi dijadikan sebagai topeng dalam menitipkan berbagai tujuan dan kepentingan pribadi. Pasalanya, memahami toleransi yang ada, tidak bisa dipandang dari sudut pradigma masyarakat sasak saat ini saja, karena setiap perubahan waktu membawa pengertian yang berbeda, dari generasi satu ke generasi berikutnya atau dari tradisional ke modern. Masyarakat sasak saat ini misalnya, dihadapkan dengan berbagai macam toleransi, dimulai dari tata krama atau sopan santun sampai pada tataran politik (tiang-enggih “bahasa halus masyarakat sasak” s/d peperangan kekuasaan yang terkadang melahirkan kematian). Kematian tidak hanya diartikan sebagai hilangnya nyawa seseorang, namun karir atau masa depan merupakan bentuk dari kematian yang diakibatkan oleh politik.
Tiang-enggih merupakan bahasa halus yang digunakan oleh masyarakat sasak sebagai bentuk rasa hormat kepada yang lebih tua atau dewasa. Penggunaan tiang-enggih tidak hanya diperuntukkan untuk kamu bangsawan, akan tetapi pada hakekatnya bahasa tiang-enggih diajarkan kepada generasi dalam menggunakan bahasa yang sopan, baik dalam ruang lingkup keluarga maupun secara sosial. Tetapi pengajaran bahasa tiang-enggih oleh orang tua kepada generasi tidak diajarkan secara keseluruhan oleh masyarakat sasak, hanya beberapa kalangan masyarakat sasak yang mengajarkan generasinya untuk menggunakan bahasa tiang-enggih sebagai bentuk kesopanan dalam berbicara. Ada dua variasi dalam pengucapan tiang-enggih dalam tataran masyarakat sasak. Pertama, di Desa Batujai, pengucapan tiang-enggih diperuntukkan kepada kaum bangsawan sebagai bentuk rasa hormat, tidak menegaskan kepada pengucapan yang menyeluruh. Kedua, di Desa Sakra Dusun muntung tengak, pengucapan tiang-enggih menegaskan makna secara menyeluruh. Sedangkan banyak desa-desa yang ada di Lombok tidak mengajarkan kepada generasi dalam menggunakan bahasa tiang-enggih sebagai bahasa sopan santun.
Dari segi ini, tentu saja bahasa akan melahirkan karekter yang berbeda-beda antra masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. penggunaan bahasa tiang-enggih tidak bisa digeneralisasikan dan diharapkan sebagai bahasa yang halus dalam komunikasi sosial (social communication) pada masyarakat sasak. Misalnya: ketika kaum bangsawan yang selalu mendengar ucapan (tiang-enggih) dari kalangan non-bangsawan akan merasa dihormati dan dihargai, namun ketika ucapan itu tidak lagi didengar, maka rasa hormat dan dihargai tidak lagi menjadi tolak ukur sebagai kaum bangsawan. Karena pengakuan yang diakui sebagi bentuk keberagaman atau bentuk perbedaan akan hilang secara perlahan bilamana rasa dihormati dan dihargai menjadi bentuk akhir keinginan. Begitu juga dengan orang tua yang ucapannya tidak lagi disambut dengan tiang-enggih sebagai rasa hormat, tidak akan melunturkan identitasnya sebagai orang tua.
Kata “kamu” dalam penggunaan bahasa Indonesia, bagi masyarakat jawa dan lainnya tidak memiliki makna yang negatif, karena kata “kamu” meruapakan penggunaan bahasa sesuai dengan EYD. Tetapi, bagi sebagian besar masyarakat sasak, penggunaan kata “kamu” dapat memiliki makna yang negatif, karena pengucapan “kamu” tidak pantas diucapkan kepada orang yang lebih dewasa. Bahasa yang sederhana ini menunjukkan identitas penting bagi masyarakat sasak, yang menganggap bahwa bahasa memiliki efek kuat terhadap status dan yang lainnya. Bagi menurut penulis, toleransi dalam penggunaan bahasa adalah bentuk rasa hormat dan saling menghargai terhadap budaya, aturan dan norma-norma sosial yang terbangun sejak dahulu. Tidak seperti tawaran “dunia modern” tentang toleransi dalam aturan, budaya, bahasa, sosial dan lainnya yang memiliki berbagai macam terjemahan sehingga memudahkan seseorang berkembang dengan lebih cepat.
Toleransi sebagai asumsi dasar dalam menilai keberagaman dalam masyarakat, terkadang tidak bisa dijadikan ukuran dalam menentukan tindakan apabila toleransi dipadukan dan diselaraskan dengan tawaran dunia modern. Karena toleransi agama, adat istiadat, sifat manusia, aturan maupun yang lainnya merupakan suatu bentuk keberagaman yang diterjemahkan secara modern sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Misalnya: ketika PT Tiara Mall sebagai pembuka lapangan pekerjaan memiliki aturan managemen sebagai wujud keberlangsungan, maka penting kiranya masyarakat memahami bahwa hal tersebut benar dan tidak bisa didemonstrasikan dengan tidak menerima aturan tersebut, baik secara lisan maupun tertulis. Karena pada dasarnya, apapun bentuk aturan demi keberlangsungan, segogyanya harus dihormati dan dihargai sebagai bentuk rasa toleransi sesama pencari nafkah. Pasalnya, toleransi tidak menuntut masyarakat untuk bertindak kontradiktif dengan tawaran dunia modern. Tetapi, perlu disadari secara untuh tentang bagaimana bersikap toleransi yang tidak menyakiti satu sama lain, baik aturan dengan objek aturan, PT Tiara Mall dengan masyarakat, maupun pemerintah sebagai pemangku kebijakan dalam mempertahankan nilai-nilai toleransi.
 Dengan demikian, apakah semua pihak tidak menciderai nilai-nilai toleransi? Pemerintah, masyarakat maupun PT Tiara Mall pada dasarnya sudah menciderai toleransi dengan sudut pandang yang berbeda.
C.       Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesejahteraan perlu diterjemahkan secara universal, tidak hanya pada konteks kemiskinan sebagai acuan dalam membangun dunia yang lebih baik. Namun, kesejahteraan perlu membicarakan dan mendiskusikan tentang tujuan yang ditawarkan oleh dunia modern dalam bentuk apapun. Begitu juga dengan toleransi dan keberagaman, tidak hanya perbedaan-perbedaan yang dipahami selama ini sebagai bentuk keberagaman, melainkan ditawarkan sebuah makna dan pengertian yang sesuai dengan tawaran dunia modern saat ini guna memahami dan mengiringi tujuan besar dunia modern. Dan tidak hanya dalam konteks ini, namun konteks-konteks yang lain pun perlu kiranya diberikan jawaban untuk dipresentasikan pada dunia modern.
Ada satu pertanyaan penulis yang belum penulis pahami jawabannya, yakni: apa manfaat sesungguhnya toleransi dan keberagaman dalam konteks “tawaran modern” yang diracik dengan berbagaimacam bumbu menarik oleh manusia? Jika hanya sekedar saling menghargai dan menghormati antar sesama, maka dunia pendidikan telah menjawabnya: jawaban tersebut sudah expired (basi). Pasalnya, penulis merasa bahwa ada penghalang yang kuat antara toleransi dan keberagaman dengan sistem kenegaraan (UU, pancasila, cita-cita luhur para pejuang kemerdekaan indonesia dan lainnya). serta bagaimana para koruptor, premanisme birokrasi, ketidakjujuran diberbagai sisi yang dilakukan oleh orang-orang yang memahami dunia modern dan kemandulan aturan memandang toleransi dan keberagaman. Tidak jelaskan saling menghargai dan menghormati sebagai bentuk memahami keberagaman yang ada.


Post a Comment

komentar anda sangat berarti bagi kami, terima kasih telah membaca blog Rantauan Lombok Merantau

Simak juga Post Sarjana Muda 45 Minggu ini

Hidup hanyalah sekedar jalan-jalan untuk menikmati kehidupan, hidup hanyalah sekedar hembusan nafas untuk melangkah menikmati jeruji Tuhan, hidup hanyalah gambaran Tuhan akan kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu…, tak perlu rebut, tak perlu risau, tak perlu bingung, tak perlu galau, tak perlu merasa tertipu, tak perlu merasa bahwa hidup ini tak adil, tak perlu memberontak, tak perlu bangga, tak perlu sombong. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati setiap proses yang ada, karena proses akan menentukan bahwa jalan-jalan dibumi yang kita lakukan sukses atau gagal. (Surga ataukah Neraka).

Data Pengunjung

Popular Posts

 

Negara Pengunjung RLM


PUTRA NTB MENULIS
SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Statistic RLM

LOGO

LOGO
PUTRA LOMBOK MENULIS "BATUJAI"

Translate